Minggu, 10 Februari 2013



    Mengoptimalkan Seluruh Fungsi Otak untuk Kecerdasan


Konon di Indonesia (umumnya), otak masih menjadi raksasa tidur yang belum banyak dikelola dan hanya sekitar 10% yang difungsikan oleh manusia, padahal otak merupakan bagian tubuh yang sangat penting bagi perkembangan hidup seseorang. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakan manusia berasal dari olah pikir yang berpusat di otak. Masih banyak potensi yang dipunyai otak namun belum dikelola oleh manusia secara maksimal bagi perkembangan hidup. Otak benar-benar benda spektakuler yang menyediakan komponen anatomis untuk aspek rasional (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Artinya bahwa manusia secara kodrati telah dipersiapkan sedemikian rupa untuk merespons segala bentuk dan macam hal yang muncul dari ketiga komponen anatomis tersebut, berarti pula bahwa otak manusia menjadi kekuatan fisik bagi pengembangan diri secara keseluruhan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, aspek rasional (IQ) menjadi momok bagi sejumlah kalangan, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, pencari kerja swasta, pemerintahan bahkan bagi orang sukses sekalipun. Takaran IQ telah menghilangkan kesempatan berkembang dan mengakibatkan kerugian yang tidak kecil bagi mereka yang memiliki IQ rendah, tetapi memiliki kecerdasan lain yang dominan, padahal berdasarkan riset dinyatakan bahwa aspek rasional (IQ) hanya menyumbang 5 – 20 % bagi kesuksesan seseorang. Ukuran IQ memiliki kelemahan dalam membangun peluang nuansa emosional, seperti : empati, motivasi diri, pengendalian diri dan kerjasama social. Cukup banyak orang yang memiliki IQ di atas rata-rata, tetapi banyak pula diantara mereka yang tidak berhasil dalam membangun kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaannya.
Aspek emosional (EQ) atau kecerdasan antar pribadi merupakan kebutuhan vital manusia untuk membangun hubungan dengan orang lain, otak manusia membangun piranti khusus untuk kecerdasan ini. EQ juga merupakan serangkaian kecakapan untuk melapangkan jalan kehidupan yang penuh liku dan permasalahan sosial, karena pada aspek ini seseorang memiliki kemampuan “mendengarkan”  bisikan emosi, dan menjadikannya sebagai sumber informasi penting untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Banyak peluang bisnis yang tidak bisa dilihat dengan mata kepala tetapi mampu melihat dengan mata hati untuk memenuhi kebutuhan dan menolong orang lain. Sikap-sikap kreatif, konsisten, berani mengambil keputusan dan memiliki tekad yang tangguh adalah bagian dari sikap pada aspek emosional (EQ).
Aspek spiritual atau Kecerdasan Spritual (SQ) merupakan kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau “nilai”, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai sebuah tindakan atau jalan hidup sesorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lainnya. Aspek spiritual atau kecerdasan spiritual dapat memfungsikan  aspek rasional dan emosional secara efektif bahkan aspek ini merupakan kecerdasan tertinggi. Ketulusan, integritas, tanpa pamrih, rendah hati, dan berorientasi pada kebajikan sosial adalah hal yang penting dalam kehidupan dan dapat memberikan kepuasan atas suksesnya seseorang. Aspek-aspek spiritual ini tidak hanya membuat seseorang sukses, tetapi juga bahagia.
Dari ketiga komponen anatomis yang membentuk fungsi rasional, emosional dan spiritual, membentuk konsep baru mengenai kecerdasan. Menurut Howard Gardner, dalam  teori Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk) terdapat delapan kecerdasan yang dimiliki oleh  manusia yaitu linguistik, matematik, spasial, kinestetis, musik, antar pribadi, interpribadi dan kecerdasan naturalis. Kesemua potensi ini berbeda kadarnya pada setiap orang, contohnya : Eko Supriyanto (penari latar) dan Mike Tyson memiliki kecerdasan kinestetis; seorang politikus memiliki kecerdasan antarpribadi (people smart); Amin Rais memiliki kecerdasan linguistic; Theodore John Kaczynski dengan kecerdasan matematik; seorang Jalaluddin Rakhmat, memiliki 4 (empat) dari delapan  kecerdasan manusia yang tinggi, tetapi kecerdasan matematik dan spasialnya biasa-biasa saja.
Di Indonesia, pada umumnya kecerdasan manusia dibatasi pada dua kecerdasan saja yaitu matematik dan spasial, sehingga penghargaanpun masih ditujukan pada satu atau dua kecerdasan tersebut. Tapi bagaimana mengoptimalkan seluruh fungsi otak?, ahli syaraf Indonesia, Prof. Sidiarto Kusumoputro menemukan teknik pelatihan untuk mengoptimalkan otak, yaitu dengan pelatihan KISS ME, Neurobics, dan Brain Gym. KISS ME terdiri dari kreatifitas, imajinasi, sosialisasi, spiritual, musik dan emosi. KISS ME akan membangunkan benda spektakuler (otak) yang masih tidur.
(Referensi : Taufik Fasiak dalam Revolusi IQ/EQ/SQ; Ary Ginanjar Agustian dalam ESQ; Asianbrain.com dalam Otak; nursyifa.hypermart.net dalam Teknologi Otak Manusia; nuritaputranti.wordpress.com dalam Kecerdasan Majemuk).

Sabtu, 09 Februari 2013

Ciri Makanan yang Mengandung Pemanis Buatan




 Orang Indonesia menyukai makanan yang manis sebagai hidangan penutup. Untuk mengolah makanan manis tersebut tentunya Anda membutuhkan  pemanis, seperti gula aren, gula palem (brown sugar), gula buah, gula tebu, gula jagung, atau madu. Selain jenis pemanis alami tersebut, Anda juga bisa menggunakan pemanis buatan seperti sakarin, sorbitol, aspartam, atau siklamat.
Yang perlu Anda ketahui, mengonsumsi pemanis buatan secara berlebihan atau secara rutin tidak baik untuk kesehatan. Efeknya antara lain akan meningkatkan potensi obesitas, karies gigi, penyakit diabetes, sampai gangguan lain seperti sakit kepala, gangguan belajar, emosi, dan mental.
Karena itu, Anda perlu memerhatikan kandungan maksimal pemanis buatan yang masih diperbolehkan masuk ke dalam tubuh. Misalnya sakarin, yang memiliki tingkat "aman" sekitar 50-300 mg/kg, siklamat 500 mg/kg sampai 3 gr/kg, sorbitol 120 gr/kg-5 gr/kg, sedangkan aspartam sebenarnya sama sekali tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.
Secara fisik, ada ciri yang mudah dikenali untuk membedakan minuman yang mengandung pemanis buatan dan pemanis alami, yaitu konsistensi minumannya yang lebih cair. Misalnya, sirup yang mengandung pemanis buatan akan memiliki konsistensi yang lebih encer dibanding dengan yang mengandung pemanis alami.
Tingkat rasa manis pada pemanis buatan memang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pemanis alami. Akibatnya, meskipun kadar pemanis buatan ini tergolong kecil, rasa manisnya sudah tinggi sehingga harus diencerkan dengan air yang lebih banyak.
Jika Anda tidak ingin terlalu sering mengonsumsi makanan yang mengandung pemanis buatan, maka coba amati perbedaan rasanya dengan pemanis alami. Pemanis buatan memiliki aftertaste yang khas, antara lain:

1. Memiliki rasa manis yang pekat
Pemanis buatan memiliki rasa manis yang berlebihan dan sangat pekat. Bahkan, tak jarang rasa manisnya cenderung membuat rasa eneg setelah mengonsumsinya.

2. Ada rasa pahit yang tertinggal
Pemanis buatan yang terkandung dalam makanan atau minuman akan meninggalkan sisa rasa pahit dalam mulut. Hal ini disebabkan adanya kandungan bahan kimia sebagai bahan baku pemanis buatan tersebut.
3. Membuat tenggorokan menjadi kering
Salah satu ciri yang bisa membuat kita "menangkap basah" adanya pemanis buatan adalah tenggorokan yang terasa kering setelah menyantapnya. Otomatis Anda pun akan merasakan haus yang amat sangat. Jika tidak segera minum air putih, biasanya akan timbul serangan batuk dan penyakit tenggorokan lainnya.
(Dari berbagai sumber)